Kekalahan Yang Memacu

Desember 2012, KPK mengadakan kejuaraan panjat dinding tingkat regional kelompok umur. Nah, kakak-kakak yang biasa mendampingi Kayla, menyarankan Kayla ikut lomba karena mereka melihat Kayla mempunyai bakat olahraga panjat dinding. Saat itu Kayla baru dua kali latihan dan belum mempunyai sepatu serta peralatan panjat apa-apa. Tapi karena Kayla mau dan semangat untuk ikut lomba, saya pun mendukungnya.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Namun saat lomba, Kayla kalah. Mungkin karena baru latihan dua kali, ya. Dia menangis sedih karena tidak bisa memanjat sampai puncak. Tapi usai lomba itu, esoknya Kayla semakin gigih minta diantar ke tempat latihan hingga akhirnya dia mendapat jalan bergabung dan berlatih dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) Pengcab Jakarta Selatan. Singkat cerita, April 2013, Kayla mendapat kesempatan ikut seleksi Pelatda Lapis II dan lulus setelah ikut pembinaan atlet di Pelatda.

Kemudian, Juni 2013, Kayla diikutsertakan Kejurnas kelompok umur di Lombok NTB. Itu adalah Kejurnas pertamanya dan dia tidak meraih medali. Tapi Kayla tidak patah arang. Setelah beberapa kali ikut lomba, saat kejurnas di Kalimantan Timur tahun 2013, akhirnya Kayla berhasil meraih medali emas di dua ketegori sekaligus, Lead dan Speed Per orangan Putri. Tahun berikutnya, Kayla juga meraih medali emas pada kejurnas di Surabaya dan perunggu pada kejurnas di Bogor untuk kategori Lead Perorangan Putri. Begitu pun pada kejurda, sejumlah medali diraih Kayla.

Tentu, prestasi Kayla tidak lepas dari jasa pelatihnya yang selalu melatih Kayla dengan cara anak-anak, bermain dan fun. Ba yangkan saja, latihan panjat dinding dikawinkan dengan permainan galasin, main bola, dan masih banyak lagi permainan yang disukai anak-anak. Selain itu, pelatih kerap memberikan support kepada Kayla, seperti: “Kalau mau bicara kalah atau menang, tempatnya adalah saat latihan. Kalau mau menangis, tempatnya saat latihan. Sedangkan saat lomba tidak lagi bicara menang atau kalah, tapi manjat sebaikbaiknya.” Sebagai orangtua, tentu saya dan suami bangga memiliki anak seperti Kayla. Kami bahagia karena anak kami telah menemukan minatnya. Tidak mudah lo untuk mencari, menggali, serta menumbuhkan minat seorang anak. (Seperti diceritakan kepada Gazali Solahuddin)

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *