Mengapa Tak Mau Minta Maaf? Bag2

Setelah kemampuan bicara anak meningkat, dengan kita sebagai contoh, kita dapat meminta anak belajar mengucap kata maaf saat ia melakukan sesuatu yang membuat orang lain menjadi sedih, marah, takut, atau kecewa. Di usia prasekolah, mengajarkan maaf dapat dimulai lewat keseharian di rumah.

“ lowongan kerja perawat dengan program FSJ Jerman gratis “

Ketika Mama tidak sengaja menginjak mainan anak, “Duh, maaf ya, Kak, tidak sengaja keinjak. Sini Mama bantu perbaiki.” Dengan melihat dan mengalami langsung, anak belajar memahami bagaimana cara tepat meminta maaf. MINTA MAAF DENGAN TULUS Mengajarkan sikap minta maaf memang terbilang abstrak. Namun, seperti yang disampaikan oleh Intan di atas, sebetulnya anak prasekolah sudah punya perasaan bersalah ketika melakukan sesuatu yang tidak disukai orang lain.

Respons pertamanya setelah melakukan kesalahan bisa beragam, dari menangis, marah, hingga diam, dan menarik diri dari situasi yang berlangsung saat itu. Ini merupakan respons wajar yang sering ditunjukkan anak prasekolah. Nah, pada situasi tersebut, kita tidak bisa memaksa anak agar mau meminta maaf dengan tulus. “Sebaiknya anak tidak dipaksa mengucapkan maaf ketika ia menolak, atau belum siap untuk meminta maaf,” tutur Intan.

Hal tersebut dapat membuat anak merasa terpaksa mengucap kata maaf, tanpa memahami makna dari ucapan kata maaf. Kita bisa memberikan waktu pada anak untuk menenangkan diri. Lebih baik jika ia meluapkan emosi yang ia rasakan saat itu, dengan menangis atau marah sekalipun, sebagai wujud rasa bersalahnya. Setelah lebih tenang, kita bisa mengajak anak berbicara mengenai apa yang sebenarnya anak rasakan, serta mengajaknya memikirkan akibat dari tindakannya, dan bagaimana perasaan orang lain.

Contoh, saat si adik merebut dan merobek buku kakaknya, Mama dapat menunjukkan empati pada si adik dengan berkata, “Adik marah karena Kakak tidak mau meminjamkan buku, ya? Adik ingin membaca juga?” Setelah itu, ajak Si Adik memahami perasaan kakaknya, “Tapi coba lihat wajah Kakak, ia jadi marah dan sedih karena bukunya robek. Kalau Adik yang bukunya dirobek bagaimana?” Kalimat semacam itu akan membuat Si Adik merasa dipahami, tidak begitu saja merasa disalahkan dan dipaksa meminta maaf, serta jika nantinya ia meminta maaf, ia sudah paham apa kesalahannya serta akibat dari tindakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *