Jurus Silat Dua Koreografer Bag6

Bagi keduanya, gerakan silat yang mereka pelajari sejak kecil telah merasuk dan bisa keluar dengan sendirinya ketika berlatih olah tubuh hingga berkreasi gerakan tari kontemporer. Pengalaman itu dirasakan Eko ketika belajar tari dan melanjutkan studi di Amerika Serikat pada 1998-2001. Eko belajar silat di perguruan Bima yang dikelola keluarganya di Magelang, Jawa Tengah, ketika sekolah menengah pertama, pada 1981-1982. Karena badannya pendek dan kecil, ia dikelompokkan ke karakter jurus ular. Lalu, ketika sekolah menengah atas, ia mengaku suka berkelahi dan mencari musuh. Ketika mulai belajar menari dan kuliah di kampus Institut Seni Indonesia, karakter Eko berubah.

Internet Ngebut dan Artinya Untuk Kita ala Fin888 Bag2

Internet Ngebut dan Artinya Untuk Kita ala Fin888 Bag2 – Berdasarkan data 2013, GDP Indonesia USD838,3 miliar. Berarti peningkatan 10% pengguna broadband akan menambah USD 8miliar untuk GDP kita. Bahkan di Tiongkok, berdasarkan data Alcatel Lucent, tiap penambahan 10% penetrasi pita lebar, bisa menambah 2,5% GDP negara itu. Sementara Amerika Latin dan Karibia memperkirakan dari penambahan 10% akan menambah GDP 3,2% dan 2,5% produktivitas.

Selain itu, menurut World Bank, tiap penambahan 1.000 pengguna broadband juga akan menambah lapangan pekerjaan untuk 80 orang. Maka bolehlah kita mengapresiasi mereka-mereka yang berhasil menggunakan Internet untuk kegiatan produktif, seperti para blogger yang bisa mendapat penghasilan tambahan lewat tulisan-tulisan mereka, para freelancer online, para pedagang online, dan mereka yang menyediakan inovasi layanan Internet lewat perusahaan teknologi pemula (startup teknologi). Meski demikian, tak dipungkiri, kreativitas warga Indonesia dalam menggunakan media sosial cukup menarik pengaruhnya terhadap panggung perpolitikan tanah air.

Setidaknya, dalam hal keterbukaan pemerintah, media sosial asing ini cukup ber peran. Kini, beberapa pejabat negara dan pemerintah daerah bisa dengan mudah dikontak lewat akun Twitter dan Facebook mereka. Pita Lebar Tergerak oleh penelitian World Bank di atas, pemerintah pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membentuk KP3EI (Komite Percepatan Pemerataan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Dari komite ini lahirlah program MP3EI dengan dokumen RPI (Rencana Pitalebar Indonesia/ IBPIndonesia Broadband Planning) sebagai salah satu turunannya.

Dokumen ini berisi peta jalan pembangunan jaringan pita lebar dan pemanfaatannya di Indonesia. RPI lantas disahkan Oktober lalu melalui PP no.96 tahun 2014, sesaat sebelum Presiden SBY turun dari jabatannya. Selain itu, dokumen ini juga dibuat untuk memenuhi ketentuan Broadband Comission (terdiri dari International Telecommunication Union [ITU] dan UNESCO) PBB. Broadband Commision menetapkan pada 2015 tiap negara harus sudah mempunyai broadband plan sebagai akses universal. Dalam dokumen ini, pemerintah ingin mengembangkan koneksi pita lebar di seluruh wilayah Indonesia.

Terutama di wilayah Indoensia Timur yang memang belum terjangkau akses Internet berkecepatan tinggi ini. Bukan sekedar menggelar kabel serat optik (fiber optic). Tapi juga memberdayakan infrastruktur ini untuk kemashlatan bangsa. Salah satunya mendukung transparansi, kecepatan, dan kenyamanan layanan bagi masyarakat dan entitas bisnis. Artinya, kita bisa mengurus dokumen kependudukan dengan cepat dan nyaman lewat Internet (e-pemerintahan), pemerintah lebih transparan dalam penyediaan barang dan jasa yang biasanya penuh praktek KKN (e-pengadaan). Peranan ICT dalam pengiriman logistik juga tak kalah penting.

Sumber : https://net89.net/

Mengapa Tak Mau Minta Maaf? Bag2

Setelah kemampuan bicara anak meningkat, dengan kita sebagai contoh, kita dapat meminta anak belajar mengucap kata maaf saat ia melakukan sesuatu yang membuat orang lain menjadi sedih, marah, takut, atau kecewa. Di usia prasekolah, mengajarkan maaf dapat dimulai lewat keseharian di rumah.

“ lowongan kerja perawat dengan program FSJ Jerman gratis “

Ketika Mama tidak sengaja menginjak mainan anak, “Duh, maaf ya, Kak, tidak sengaja keinjak. Sini Mama bantu perbaiki.” Dengan melihat dan mengalami langsung, anak belajar memahami bagaimana cara tepat meminta maaf. MINTA MAAF DENGAN TULUS Mengajarkan sikap minta maaf memang terbilang abstrak. Namun, seperti yang disampaikan oleh Intan di atas, sebetulnya anak prasekolah sudah punya perasaan bersalah ketika melakukan sesuatu yang tidak disukai orang lain.

Respons pertamanya setelah melakukan kesalahan bisa beragam, dari menangis, marah, hingga diam, dan menarik diri dari situasi yang berlangsung saat itu. Ini merupakan respons wajar yang sering ditunjukkan anak prasekolah. Nah, pada situasi tersebut, kita tidak bisa memaksa anak agar mau meminta maaf dengan tulus. “Sebaiknya anak tidak dipaksa mengucapkan maaf ketika ia menolak, atau belum siap untuk meminta maaf,” tutur Intan.

Hal tersebut dapat membuat anak merasa terpaksa mengucap kata maaf, tanpa memahami makna dari ucapan kata maaf. Kita bisa memberikan waktu pada anak untuk menenangkan diri. Lebih baik jika ia meluapkan emosi yang ia rasakan saat itu, dengan menangis atau marah sekalipun, sebagai wujud rasa bersalahnya. Setelah lebih tenang, kita bisa mengajak anak berbicara mengenai apa yang sebenarnya anak rasakan, serta mengajaknya memikirkan akibat dari tindakannya, dan bagaimana perasaan orang lain.

Contoh, saat si adik merebut dan merobek buku kakaknya, Mama dapat menunjukkan empati pada si adik dengan berkata, “Adik marah karena Kakak tidak mau meminjamkan buku, ya? Adik ingin membaca juga?” Setelah itu, ajak Si Adik memahami perasaan kakaknya, “Tapi coba lihat wajah Kakak, ia jadi marah dan sedih karena bukunya robek. Kalau Adik yang bukunya dirobek bagaimana?” Kalimat semacam itu akan membuat Si Adik merasa dipahami, tidak begitu saja merasa disalahkan dan dipaksa meminta maaf, serta jika nantinya ia meminta maaf, ia sudah paham apa kesalahannya serta akibat dari tindakannya.

Mengapa Tak Mau Minta Maaf?

Bukan soal pengucapannya saja, anak juga perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk meminta maaf. Jadi, bagaimana mengajari anak agar mau minta maaf? “Praaanngg! ”  Terdengar suara sesuatu jatuh dan pecah. Buru-buru Mama Viana menghampiri Kiara, yang rupanya baru saja menjatuhkan gelas dan pecah. “Kiara, kenapa gelasnya bisa pecah?” tanya Viana sambil menggendong Kiara.

“ Pengertian apa itu ausbildung dan apa saja syaratnya untuk kerja di Jerman gratis “

Kiara hanya diam, wajahnya tampak menahan tangis. Tak lama, Satria, ayah Kiara datang bertanya ada apa. “Kiara, ayo minta maaf pada Mama,” kata Satria. Kiara malah menangis. Satria dan Viana sama-sama bingung, meski sudah diajarkan untuk minta maaf jika berbuat salah, kadang Kiara tidak mau minta maaf. Mereka khawatir Kiara akan begitu sampai besar nanti. Padahal, kata maaf adalah salah satu kata sakti yang perlu dikuasai anak.

Bukan soal pengucapannya saja, tetapi juga bagaimana agar anak tahu kapan waktu yang tepat untuk meminta maaf. Jadi, bagaimana solusinya? USIA PALING TEPAT Psikolog Intan Kusuma Wardhani menuturkan, saat paling tepat mengajari anak perlunya minta maaf adalah di usia prasekolah. “Usia 3–5 tahun merupakan masa peka seorang anak belajar mengenai konsep benar dan salah, sehingga ia mulai punya rasa bersalah ketika melakukan sesuatu yang direspons negatif oleh orang lain,” kata Intan.

Pada usia prasekolah tersebut, anak juga mulai belajar berinteraksi sosial secara lebih luas, tidak hanya dengan anggota keluarga. Meminta maaf dan memberi maaf merupakan salah satu keterampilan sosial yang perlu menjadi modal anak agar dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang lain kelak. Lebih lanjut, Intan memaparkan, sejak bayi pun kita sudah dapat memperkenalkan kata maaf, meski anak mungkin belum memahami esensi dari permintaan maaf tersebut.

Bayi usia 7–8 bulan walau belum mampu berbicara, tetapi telah memiliki kemampuan mengenali banyak kata. Perkenalkan kata maaf dalam bentuk ucap an sekaligus perbuatan. Misal, saat bayi mena ngis ingin menyusu, Mama dapat berkata, “Maaf ya, Nak, Mama tadi ke kamar mandi dulu. Kamu haus?” sembari menyentuh dan membelainya.