Categories
Parenting

Kecil-Kecil Manipulatif Bagian 2

IDENTIFIKASI PENYEBAB

Alih-alih kesal atau marah karena kerap “tertipu” oleh si batita, ada baiknya Mama Papa mengidentifi kasi kapan dan apa yang menyebabkan perilaku manipulasi ini muncul. Misalnya, apakah saat orangtua sedang sibuk sendiri dengan gadget-nya? Apakah sebelumnya anak sudah berusaha mengomunikasikan de ngan baik kebutuhannya na mun Mama Papa gagal menangkap hal ini sehingga ia harus melakukan manipulasi? Apakah anak baru mendapat apa yang ia inginkan hanya jika ia melakukan manipulasi?

Apakah Mama Papa galak sehingga anak cenderung takut menyampaikan kebutuhannya? “Apabila penyebabnya datang dari perilaku orangtua yang kurang memadai dalam memenuhi kebutuhan anak, maka perubahan perilaku tentu harus datang dari orangtua. Namun apabila perilaku anak muncul karena ia ingin menang sendiri atau mencari perhatian, orangtua sebaiknya berperilaku tenang dan tidak memberikan perhatian yang batita inginkan,” papar Titis. Perilaku manipulasi juga dapat terkait dengan pola asuh orangtua. Apabila orangtua secara tidak sadar memberi respons positif terhadap manipulasi yang dilakukan anak, perilaku ini akan terus dipertahankan.

Misalnya saja, orangtua mencium anak karena gemas ketika melihat ia pura-pura menangis untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Apabila anak belajar bahwa dengan manipulasi, ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan lingkungan sekitarnya merespons dengan baik, maka ia akan cenderung meng ulangi perilaku tersebut sehingga menetap dalam kepribadiannya. Ini sama sekali bukan pertanda yang baik dalam perkembangan anak. Respons orangtua akan menentukan hilang atau menetapnya perilaku manipulatif pada anak.

SOLUSI

Untuk menangani batita yang kerap melakukan mani pulasi, orangtua dapat mengomunikasikan sudut pandang atau kebutuhannya kepada anak. Apabila anak melakukan manipulasi setiap kali perhatian Mama Papa teralih darinya, maka orangtua perlu memberikan pengertian pada anak mengenai apa yang membuat Mama Papa beralih darinya. Sampaikan bahwa yang orangtua lakukan adalah hal penting dan akan kembali bermain dengannya setelah waktu tertentu. “Menyampaikan kebutuhan orangtua kepada anak akan membuat ia belajar untuk mengembangkan empati yang merupakan hal penting dalam proses perkembangan emosi anak,” ujar Titis.

Apabila anak mampu berempati maka kemungkinan memanipulasi orang lain hanya untuk kepentingan pribadinya akan semakin kecil. Selanjutnya, ajari anak mengenali kebutuhannya sendiri dan mengomunikasikan hal tersebut dengan cara positif. Orangtua dapat mengajarkan pada anak mengenai apa yang mungkin ia rasakan dan mengajarkan alternatif perilaku yang dapat ia lakukan untuk mengomunikasikan kebutuh annya.

Misalnya saat anak menendang perabot karena merasa kesal setelah dilarang makan permen, orangtua dapat mengatakan, “Mama tahu kamu merasa kesal, tapi menendang barang bukan perilaku yang baik dan Mama tidak suka. Kamu boleh duduk di sofa sampai kamu merasa lebih tenang.” Tunjukkan bahwa orangtua memahami perasaan anak. Namun begitu, ia harus bisa mengendalikan emosinya dan menunjukkan perilaku positif. Tak jarang orangtua justru harus tidak mengacuhkan perilaku anak yang tidak perlu dan bersikap konsisten.

Perilaku manipulasi anak dapat muncul dan bertahan karena adanya reinforcement atau “dukungan” yang muncul dari lingkungan. Apabila anak melakukan manipulasi, jangan acuhkan. Pastikan orangtua bersikap tenang sambil memerhatikan apakah perilaku anak berbahaya bagi dirinya sendiri. Sikap reaktif seperti yang ditunjukkan Asti di atas justru dapat membuat anak mengulangi lagi perbuatannya.

Apabila tidak berbahaya, sebaiknya cuekin saja perilakunya tersebut. Pada situasi tertentu, orangtua dapat melakukan timeout untuk memastikan anak tidak mendapat reinforcement terhadap perilaku negatif yang ia lakukan. Misalnya dengan memintanya berdiam di sofa sampai tenang. Bersikap konsisten dalam menghadapi anak juga sangat penting dila kukan agar tidak membuka kesempatan bagi anak untuk menampilkan perilaku manipulasi tersebut lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *