Categories
Parenting

Kecil-Kecil Manipulatif

Asti terkejut ketika tiba-tiba Abam, put ranya yang berusia 2 tahun, berteriak kesakitan di dekat pintu yang hampir menutup. Pikiran buruk pun segera berlarian di benaknya: Abam terjepit pintu. Entah bagian tubuh yang mana. Sontak Asti berlari ke arah buah hatinya, hanya untuk mendapati si kecilnya itu tertawa-tawa. Lo, kenapa begini, ya? Mengapa ia perlu berpura-pura kesakitan seperti ini? Apa maksudnya ia memanipulasi “kesakitannya”? Apakah ini tanda-tanda anak akan suka berbohong? Sebelum membahas lebih jauh mengenai manipulasi, mari kita samakan terlebih dahulu persepsi mengenai makna manipulasi.

Menurut Titi Sahidah, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Univeristas YARSI, Jakarta, manipulasi berbeda dengan berbohong, meskipun pada taraf yang ekstrem, manipulasi juga melibatkan tindakan berbohong. “Manipulasi adalah tindakan mengendalikan atau memengaruhi orang lain dengan cara tersembunyi untuk mencapai tujuan yang sudah direncanakan,” ungkap psikolog yang akrab dipanggil Titis ini, “Karena di dalam manipulasi pelaku harus berpikir jangka panjang mengenai cara agar tujuannya tercapai.

Berbesar hatilah Anda sebagai Mama Papa dengan anak yang bisa melakukan manipulasi karena itu adalah tanda bahwa ia anak yang pandai.” Manipulasi itu sendiri dapat bermacam-macam bentuk perilakunya. Mulai perilaku lucu yang wajar, misalnya berpurapura batuk agar orangtua memindahkan perhatian dari tamu kepada anak, hingga perilaku tidak wajar dan membahayakan, misalnya membenturkan kepala ke dinding setiap kali Mama Papa menerapkan aturan.

DAMPAK BERKEMBANGNYA KONTROL DIRI

Delapan belas bulan hingga 3 tahun adalah usia dimana batita mengembangkan otonomi yang ditandai dengan berkembangnya kontrol diri. Salah satu karakteristik dari tahap ini adalah batita mulai memiliki keinginan sendiri, yang menyebabkan batita ingin mengendalikan lingkungan sesuai dengan keinginannya. “Ia ingin agar keinginannyalah yang dipenuhi, bukan keinginan orang lain,” ungkap Titis.

Batita ingin orang lain memberikan apa yang ia butuhkan atau inginkan, baik berupa perhatian, mainan, ma kanan, dan sebagainya. Dalam tahap ini batita berusaha melakukan berbagai cara agar keinginannya terpenuhi, termasuk salah satunya dengan melakukan manipulasi. Apabila ia berhasil melakukan manipulasi kepada Mama Papa dengan cara tertentu, ia akan mengulangi perilaku tersebut lagi di lain hari. Apa bila tidak berhasil, ia akan meningkatkan intensitas perilakunya dan melihat res pons orangtua. Titis berujar, “Batita sudah memahami bahwa tin dakan A dapat berakibat B.

Sehingga bila ia berhasil memanipulasi Mama Papa dengan cara A, maka lain kali ia harus mela kukan cara A kembali untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Di sinilah pen tingnya disiplin yang kon sisten dari orangtua.” Perilaku manipulatif ini memang merupakan bagian dari tahapan perkembangan anak dan akan hilang seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasa, empati, dan regulasi emosi yang umumnya akan tercapai saat anak berusia 6-7 tahun. Na mun, batita tetap perlu belajar bahwa ia tidak akan men dapatkan apa yang ia inginkan dengan cara memanipulasi orang lain.

Agar anak memiliki bekal keterampilan berbahasa asing, berikan ia pelatihan di tempat terbaik belajar bahasa Perancis di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *