Rambut Sudah Gondrong, Tapi Enggak Mau Dipotong

sat-jakarta.com – Sedikit-sedikit rambutnya ditarik-tarik karena kegerahan. Tapi kalau diajak potong rambut, hasilnya adalah, menangis heboh! Bagaimana ini? Bunda Rini sibuk memutar otak, bagaimana mengajak Fariel anak keduanya potong rambut. Pengalaman sebelumnya, kalau sudah urusan potong rambut, Fariel akan memberontak dan menangis keras. Sementara, Mama Ita paling repot urusan membersihkan telinga Dini, putrinya. Ia selalu saja banyak gerak. Jadi Ita tak pernah benar-benar bisa membersihkan telinga Dini karena takut cotton bud-nya masuk terlalu dalam.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di jakarta

Dampak Rasa Takut

Mam, salah satu sebab si kecil enggak mau diam adalah rasa takut. “Umumnya anak takut terhadap alat yang digunakan, yaitu gunting rambut dan pemotong kuku, yang berbentuk runcing. Atau kalau pembersih telinga, bisa juga karena bentuknya seperti tusukan, padahal sebenarnya tidak berbahaya,” demikian menurut Melok Roro Kinanthi, MPsi, dosen dan psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Jakarta.

Belum lagi tanpa sadar, Mama kerap meminta seperti ini, “Ayo, Adek duduknya tenang. Jangan gerak-gerak, nanti ketusuk, lo.” Nah, tambah takutlah si batita. Kalaupun Mama mengajak batita ke salon juga bukannya tanpa risiko. Situasi baru yang ditemuinya berpotensi membuatnya takut: ruangan yang tidak familiar, orang-orang yang tidak dikenal, aroma yang “aneh”, atau alat-alat yang belum pernah dilihat sebelumnya. Hal-hal baru ini kerap menimbulkan “kecurigaan” dalam pikirannya.

Penyebab lain adalah lantaran ia harus berdiam diri. Ingat, usia batita adalah masa-masa paling aktif. Bagi mereka, duduk diam bisa jadi persoalan serius. Apalagi jika Mama memotong rambut atau kukunya ketika ia sedang asyik bermain. Wah, yang terjadi justru si kecil akan protes berat, ngambek, bahkan menangis.

Ini solusinya:

* Bila takut peralatan

Menurut Melok, orangtua perlu mendiskusikan dengan anak apa yang membuat ia enggan atau takut. “Tunjukkan pada anak bahwa kita menerima perasaannya tersebut dan ajak mereka untuk bersama-sama memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa enggan dan takut tersebut,” ujar Melok.

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *