Renovasi Tiga Jembatan Penyeberangan Ditunda Bagian 2

Sandiaga menyatakan, walau ditunda, revitalisasi tiga jembatan penyeberangan tersebut masih terdaftar dalam program kerjanya. Meski begitu, ia tak bisa memastikan kapan tepatnya jembatan akan diperbaiki berikut asal pendanaannya. Bahkan pembiayaannya masih dikaji sebelum dimasukkan ke Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2019. Opsi pembiayaan lainnya, dia melanjutkan, dari dana kompensasi peningkatan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) pihak swasta. “Ini akan diputuskan pada rapat pimpinan apakah (revitalisasi jembatan) dianggarkan dari APBD 2019 atau tidak.”

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Yusmada Faizal menjelaskan, biaya Rp 56 miliar masih estimasi karena rinciannya masih dihitung oleh Dinas Bina Marga. Dia menyebutkan ketiga jembatan itu tak sudah tak layak. Jembatan di depan Polda Metro, misalnya, kondisinya tinggal setengah bagian sehingga penumpang bus Transjakarta hanya bisa menyeberang ke arah Polda Metro.

Mereka tak bisa menuju arah sebaliknya, yakni ke Hotel Sultan, lantaran jembatannya dipotong akibat proyek kereta mass rapid transit (MRT). “Mendesak untuk diperbaiki,” tuturnya. Adapun Arsitek Pengamat Aksesibilitas sekaligus Ketua Tim Pemugaran DKI Jakarta, Bambang Eryudhawan, berpendapat, penyeberangan bertombol (pelican cross) lebih ramah terhadap penyandang disabilitas dibanding jembatan penyeberangan. “Akses penyeberangan itu memberikan hak yang sama bagi semua pengguna jalan,” ucap Bambang.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *